RS Omni Internasional, seperti tercantum dalam websitenya, bermotokan World Class Healthcare, dan menargetkan pasien yang berasal dari kalangan menengah ke atas, baik dari dalam Indonesia, maupun dari luar negeri. Tentunya dengan memiliki fasilitas berstandar internasional, kalangan menengah ke atas yang biasanya berobat ke luar negeri, akan datang ke rumah sakit ini, karena toh fasilitasnya (bisa dikatakan) sama dengan rumah sakit yang ada di luar negeri.

Tapi melihat kasus yang dialami ibu Prita Mulyasari, tampaknya ada hal berstandar internasional yang terlupakan : servis terhadap pasien. Memang pihak rumah sakit sudah membantah bahwa isi email yang ditulis ibu Prita tidak benar, tapi sebagai calon pasien (sebagai manusia, suatu saat kita pasti sakit kan ?) kasus ini tentunya membuat kita ragu, apakah jika kita datang ke RS tersebut, kita tidak akan mendapat perlakuan yang sama seperti Ibu Prita ?

Pada kenyataannya, memang tidak mudah menemukan rumah sakit dengan pelayanan yang baik di Indonesia, di mana dokter-dokternya bersedia menjawab pertanyaan pasien dengan sabar, suster-susternya melayani dengan ramah dan murah senyum, dan yang tentu saja cocok dengan anggaran rumah tangga kita. Kalau di sekitar tempat tinggal anda ada rumah sakit seperti ini, anda beruntung. Bolehlah dishare dengan pembaca lain di sini.

Apalagi banyak rumah sakit yang menerapkan sistem deposit, terutama rumah sakit besar di Jakarta. Artinya, ketika pasien mendaftar, harus menyediakan sejumlah uang sebagai jaminan bahwa pasien tersebut bisa membayar biaya selama dirawat di rumah sakit tersebut. Tentu anda pernah mendengar ketika ada pasien tidak mampu yang ditolak rumah sakit, dengan alasan tempat tidurnya penuh, meskipun sudah menunjukan kartu Askeskin ? Tidakkah ini bertentangan dengan misi sosial rumah sakit ?

Kita tahu, fasilitas modern yang ada di rumah sakit berkelas internasional memerlukan investasi yang mahal. Belum lagi biaya perawatannya. Begitu juga bangunan gedung yang mewah, dan untuk menggaji dokter yang berkualitas (baca: punya jam terbang yang cukup tinggi). Tentunya, mereka yang membangun rumah sakit seperti ini mengharapkan pemasukan dari pasien yang sesuai dengan pengeluaran tersebut. Dan tentunya, sudah masuk di akal seandainya pasien yang akan membayar banyak tersebut mengharapkan layanan yang sepadan kan ?

Meskipun begitu, bukankah sebagai pasien di rumah sakit manapun, kita berhak mendapatkan layanan yang baik, tanpa memandang status ekonomi kita ? Bukankah sebagai penyedia layanan untuk masyarakat, rumah sakit seharusnya memandang keluhan yang disampaikan pasien sebagai suatu kritik untuk membuat kualitas yang lebih baik ? Bagaimana kualitas rumah sakit di Indonesia dapat meningkat, jika pasien yang tidak puas dipenjara karena mengeluh ?

Read More..


Muffin yang mudah dibuat, tidak perlu pakai mixer, dan sehat karena pakai oatmeal dan rendah gula. Boleh dicoba untuk cemilan waktu sedang diet. Asal jangan kebanyakan. Oh ya, hasil jadinya hanya sedikit, sekitar 4 muffin ukuran sedang. Kalau cocok, silahkan buat dua kali resepnya.

Bahan :
Tepung Terigu 50 gr
Oatmeal 50 gr
Baking Powder 1/2 sdt
Baking Soda 1/2 sdt
Mentega 50 gr
Telur 1 butir, kocok
Susu cair 40 ml
Apel manalagi 5 buah, kupas, buang bijinya, parut
Kayumanis bubuk 1 sdt
Gula 1 sdm (boleh ditambah kalau ingin manis)

Cara Membuat:
Panaskan oven pada suhu 180 derajat.
Campurkan tepung terigu dengan oatmeal, baking powder, dan baking soda.
Cairkan mentega, campur dengan telur, susu, dan gula.
Campur apel parut dengan kayumanis.
Masukkan campuran mentega ke adonan tepung, tambahkan apel.
Tuang ke dalam cetakan muffin, panggang sampai matang kurang lebih 25 menit.

Read More..

Beginilah nasib kita tinggal di negara yang hak perlindungan konsumennya tidak terjaga. Anda sudah tahu kasus Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang tinggal di daerah Serpong, yang mengirimkan email komplain tentang ketidakbecusan manajemen RS swasta Omni Internasional. Ibu Prita sekarang berada di LP Tangerang setelah dituntut pihak rumah sakit karena tindak pencemaran nama baik.
Anda gemas ? Saya juga. Tapi kita bisa apa ?

Sebagai penulis blog, internet adalah media saya untuk berkomunikasi. Dan kita perlu berhati-hati agar kasus serupa tidak terulang lagi pada kita. Berikut ini tips meminimalkan jeratan UU ITE yang saya dapat dari link ini :
- Jangan cuma cari perhatian dengan judul-judul yang terlampau provokatif untuk mengincar traffic dan sensasi. Sebagai blogger kita tentu bahagia ketika blog kita dikunjungi banyak orang, namun dengan teknik seperti ini bisa-bisa menjadi bumerang untuk kita.
- Fokus terhadap masalah bukan terhadap orangnya. Seringkali pandangan subyektif atau kebencian terhadap seseorang bisa terpancar dalam tulisan di blog. Padahal untuk mendukung obyektivitas, sebagai blogger harus melihat ke gambaran yang lebih besar yaitu masalahnya, bukan orangnya.
- Berikan solusi, jangan hanya mengkritik. Kritik tentu boleh saja, tetapi ada bedanya antara kritik yang membangun dan kritik yang menjatuhkan. Kritik yang menjatuhkan tentu lebih rentan untuk terkena jeratan pasal-pasal dari UU-ITE karena memang tujuan dibelakangnya adalah menjelek-jelekan pihak tertentu tanpa ada niat positif di belakangnya. Untuk mempermanis kritik, selesaikan dengan solusi yang membangun dan positif agar kritik anda-pun lebih bisa diterima.
- Jangan takut minta maaf, seringkali blogger yang terjerat kasus penghinaan enggan meminta maaf meskipun sudah terbukti melakukan kesalahan. Hal ini tentu kembali ke diri kita masing-masing, jangan terlalu angkuh dan arogan menghadapi masalah ini dan pastinya jangan malu-malu untuk meminta maaf. Kadang-kadang permintaan maaf bisa berbuah manis kok.
- Blogger harus siap menerima kritik dan saran dari para pembaca. Freedom of speech pasti disertai freedom of response, jadi apapun respon yang anda terima anda tetap harus bisa menanggapinya secara dewasa.
- Pastikan postingan kritik anda didasarkan pada fakta dan bukti-bukti pendukung yang solid.
Tentang UU ITE sendiri, anda bisa baca di sini.
Namun efek dari kasus ini, yang jelas saya nggak akan berobat ke RS Omni. Bagaimana dengan anda.

Read More..

Masak Praktis

Ditulis oleh Mama Di Sini |

Sebagai ibu rumah tangga, pastinya kita ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sedapat mungkin masakan yang dihidangkan bergizi dan higienis. Kalau kita beli masakan dari warung / restoran, kita tidak tahu apakah masakan tersebut diolah dengan baik dalam lingkungan yang bersih. Tapi kalau kita masak sendiri, kadang-kadang terasa capek dan merepotkan.
Berikut ini saya tuliskan beberapa tips masak praktis yang dapat mempersingkat waktu anda memasak.

1. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang.
Maksudnya, tidak perlu menunda-nunda hal-hal yang dapat dikerjakan secepatnya. Misalnya, selagi menemani anak main, bisa sambil merebus telur, atau kentang. Telur yang sudah direbus di siang hari, bisa dibumbui sambal balado untuk lauk malam hari.
2. Memasak dengan efisien.
Membuat tahu kukus bisa dilakukan sambil menanak nasi. Tinggal tumpangkan olahan bahannya ke atas rice cooker, ketika nasi matang, tahu kukus pun siap.
Begitu juga mengukus tempe untuk bahan membuat burger tempe.
3. Ubah urutan memasak, agar tidak perlu sering-sering mencuci peralatan masak.
Misalnya, anda ingin membuat telur dadar dan menumis kangkung. Kalau anda membuat tumis kangkung terlebih dahulu, maka ketika ingin membuat telur dadar, anda perlu mencuci wajan terlebih dahulu karena bumbu tumis yang menempel. Tetapi kalau membuat telur dadar terlebih dahulu, wajan dapat langsung digunakan untuk menumis tanpa perlu dicuci.
4. Membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, tapi jangan kebanyakan.
Selain menghemat waktu, anda juga menghemat uang. Anda bisa memotong-motong dan membekukan sayur, dan tinggal mencairkannya ketika ingin digunakan.
Supaya bahan makanan tidak lekas busuk, anda perlu memperhatikan cara penyimpanannya.
- Kentang dan ubi : tidak perlu ditaruh di kulkas. Taruh di tempat yang kering saja akan tahan lama.
- Cabai (merah, hijau, rawit) : cuci bersih, simpan dalam plastik penyimpan makanan dan bekukan. Jangan lupa tuliskan tanggal penyimpanannya Cabai beku bisa tahan cukup lama (+- 6 bulan)
- Paprika : buang bijinya, cuci bersih, simpan dalam plastik penyimpan makanan dan bekukan.
- Daun-daunan (salada, kangkung, sawi hijau, dll. kecuali bayam) : buang akarnya, cuci bersih, simpan dalam plastik penyimpan makanan, taruh di kulkas bagian bawah. Bisa tahan 2-3 hari.
- Wortel & labu siam : potong-potong, rebus kurang lebih 3 menit, lalu rendam dalam air dingin, masukkan dalam plastik / kantong penyimpan makanan, dan bekukan.
- Buncis, kacang panjang : potong-potong, rebus kurang lebih 1,5 menit, lalu rendam dalam air dingin, masukkan dalam plastik / kantong penyimpan makanan, dan bekukan.
- Kelapa parut : masukkan dalam plastik penyimpan makanan dan bekukan. Untuk membuat santan dari kelapa parut beku cukup tuangkan air hangat dan rendam sebentar.
- Labu parang & kaboca : potong-potong, kukus kurang lebih 3 menit, tunggu dingin, masukkan dalam plastik / kotak penyimpan makanan, bekukan.
- Toge : cuci bersih, masukkan dalam plastik penyimpan makanan, bekukan.
- Daging, ayam, seafood : cuci bersih, bagi sejumlah yang diperlukan untuk sekali makan, masukkan masing-masing bagian ke dalam plastik, bekukan.
Dengan begini, anda hanya perlu membeli bahan-bahan yang kurang saja. Kecuali anda memang tiap hari ingin jalan kaki membeli sayur untuk diet.
Silahkan dicoba.

Read More..
CO.CC:Free Domain