Anda sudah lihat video kekerasan yang dilakukan seorang baby sitter terhadap anak asuhnya ? Atau paling tidak, tentu anda sudah dengar cerita baby sitter kejam yang kerap membuat kita, para mama, deg-degan. Lalu, tindakan apa yang sudah anda lakukan ? 

Anda mungkin bersyukur, "Untung anak-anak saya dijaga orang yang saya percaya."
atau anda berpikir, "Untung baby sitter di rumah saya nggak seperti itu. Saya percaya kok. "
Kalau anda bekerja di kantor, anda mungkin tidak punya pilihan lain selain meninggalkan anak dengan baby sitter atau pembantu. Beruntung kalau anda punya keluarga yang dapat anda mintai bantuan untuk dititipi si kecil. 
Tapi pernahkah anda berpikir,  bahwa keputusan anda untuk tetap bekerja, mungkin tidak sebanding dengan masa depan si kecil ? 

Setelah melahirkan, ketika anda memutuskan untuk terus bekerja, saya yakin anda sudah mempertimbangkan untung ruginya untuk tetap bekerja. Mungkin anda merasa terpaksa bekerja demi kelangsungan ekonomi rumah tangga, mengingat gaji yang diterima oleh pasangan anda dirasa tidak akan dapat memenuhi kebutuhan hidup anda sekeluarga. 

Atau mungkin anda merasa sayang dengan karir yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sayang dengan hubungan relasi pertemanan dengan rekan kantor yang terasa akrab, atau malah merasa bahwa menjadi ibu rumah tangga bukanlah jalan hidup anda ?

Apalagi anda yang hidup di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Kalau mengingat bahwa anda harus menabung uang demi menyekolahkan anak di sekolah swasta ternama, saya yakin anda pasti akan bersemangat bekerja. Demi anak. 

Ya demi anak. 

Tetapi sebenarnya, apakah anda yakin, keputusan anda untuk terus bekerja itu murni demi kepentingan anak, atau sebenarnya lebih dilandasi karena rasa egois anda ?

Maafkan jika saya terdengar terlalu menusuk hati. Anda boleh saja berpindah ke halaman lain. Tapi saya hanya mau mengajak anda untuk membuka pikiran, berpikir lebih terbuka, demi anak anda, dan yang terutama, demi anda sendiri. 

Dengan terus bekerja, tentu saja anda akan mendapat penghasilan. Tentu saja tidak hanya itu. Anda punya teman banyak, punya relasi, dan mungkin, punya kebanggaan sebagai seorang wanita karir. 

Tetapi hakikat anda sebagai seorang ibu, seorang mama, tentu masih melekat pada anda meskipun anda sibuk di depan komputer, persentasi di depan klien, atau diskusi dengan atasan. Saya yakin anda masih ingat anak-anak anda di mana pun, kapan pun. Jangankan ketika anak anda dalam kondisi tidak sehat. Dalam kondisi ceria pun, anda masih terbayang-bayang menggemaskannya anak anda kan ?

Lihat meja kerja anda. Ada foto si kecil di sana kan ? Atau di hp ? Atau di kumpulan foto di facebook ? 
Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya berapa jam sih anda bertemu dengan si kecil tiap harinya ? Kalau si kecil bangun jam 6 pagi dan anda berangkat kerja jam 7 pagi, berarti anda hanya ketemu satu jam saja di pagi hari. Ditambah 2 jam di sore hari, jika anda sampai rumah jam 7 malam dan si kecil tidur jam 9 malam. Jadi kurang lebih 3 jam per hari. Kalau lebih dari itu, bolehlah anda merasa beruntung. 

Sekarang, kita balik pertanyaannya. 
Berapa jam sih anda tidak bertemu si kecil tiap harinya ?
Kalau anda berangkat kerja jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam, berarti 12 jam anda tidak ketemu anak anda. 
Dua belas jam sehari, berarti 60 jam seminggu. Sama dengan 240 jam sebulan, dan 2880 jam setahun. 
Kalau anda hanya mengambil cuti melahirkan 3 bulan, maka setelah anak anda 3 tahun lebih 3 bulan, anda sebenarnya sudah tidak bertemu dengan anak anda selama 8640 jam. Wow ! 
Sementara 1 hari =24 jam, dan 1 bulan = 720 jam, maka 8640 jam adalah 1 tahun sendiri.
Jadi ketika anak anda berumur 3 tahun, sebenarnya anda tidak ada di sampingnya selama kurang lebih 1 tahun !

Pernahkah anda berpikir demikian ?

Padahal seperti yang anda tahu, masa keemasan perkembangan otak anak adalah sampai dia berumur 3 tahun. Pada masa ini, pertumbuhan otak boleh dibilang sangat maksimal, dibandingkan dengan pertumbuhan tahun yang lain. 
Dan jika anda menyediakan baby sitter sebagai pengganti anda selama sepertiga masa emas pertumbuhan otaknya, maka baby sitter anda menyumbang sepertiga dari perkembangan otak anak anda.

Ngomong-ngomong lagi, anda tahu dong, baby sitter tuh paling pendidikannya apa ? 
Syukur-syukur lulus SMA. Banyak loh, yang hanya lulusan SMP. 

Jadi, kalau anda menyerahkan perkembangan otak anak anda kepada seorang lulusan SMP, sementara anda sendiri lulusan universitas ternama, apa yang akan anda dapatkan ? Hmmm.... silahkan anda pikirkan...

Seperti yang saya tulis di awal tadi, anda boleh merasa beruntung jika anak anda berada dalam tangan yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, perkembangan otak anak anda berada dalam lingkungan yang aman, sesuai dengan harapan anda. 

Tetap saja, sebagai seorang ibu, seorang mama, sebenarnya anda lah yang berkewajiban membina anak anda, menjaga 

agar otak anak anda berkembang semaksimal mungkin. Caranya tentu saja, adalah dengan mendampingi anak anda, terutama di masa keemasan perkembangan otaknya. 

Anda mungkin berkata, "Tidak semudah itu meninggalkan pekerjaan dan beralih jadi ibu rumah tangga !" 
Ya ya, saya mengerti. Memang tidak mudah. 
Tapi kalau anda mau terbuka, mau berusaha keluar dari comfort zone anda, mari sama-sama kita diskusi lewat blog ini. 

2 komentar
  1. Ibund buat figo 11 Juni 2009 17:24  

    My mind is wide open enough..Well somehow, working can balance my life. I've learned from my mother as full time house wife, how in the past she cannot control her emotional, lack of communication, and me as her daughter became the victim. Well, I know what you mean is a good thing, but everyone has their own choice, right??!! I know that my son is a smart boy, even he's only a little boy, he fully understand that his mom should go for work, cause it's also for his sake. Thanks for sharing and letting me know what's on your mind.

  2. hanita 23 Februari 2010 08:21  

    Aku suka blog ini! Mama pintar sekali...mampir yah ke serambi rumah kami di ourdropbox.wordpress.com

CO.CC:Free Domain