Masih ingat kasus susu formula tercemar bakteri yang bikin heboh tahun lalu ? Seingat saya waktu itu, ibu mentri kesehatan dengan entengnya bilang, "Ya bayinya dikasih ASI aja dong !" -- nggak persis ngomong seperti ini, ini cuma berdasarkan ingatan saya saja --
Saya percaya anda, seperti halnya ibu mentri, sudah tahu kalau ASI adalah yang terbaik untuk bayi kita. Di internet, majalah tumbuh kembang anak, rasanya hampir semuanya meneriakkan program ASI eksklusif 6 bulan. Hanya ASI yang perlu diberikan mulai dari bayi lahir, sampai berumur 6 bulan.
Tapi pada kenyataannya, mudahkah menjalankan program ASI eksklusif ini ?
Kalau anda pernah merasakan 'berjuang' demi memberikan ASI buat buah hati anda, anda akan menyadari bahwa memberikan ASI banyak tantangannya.
Tantangan moral, itu sudah pasti. Ada saja keluarga, terutama orang tua dan mertua, yang mendesak kita untuk memberikan 'tambahan' untuk bayi. Susu formula, air tajin, bahkan makanan seperti pisang atau jeruk, sebelum bayi berumur 6 bulan.
Kalau anda melahirkan di rumah sakit yang mendukung program ASI eksklusif, maka anda beruntung. Tapi coba pikirkan, berapa banyak rumah sakit seperti itu di negeri ini ? Berapa sih persentase rumah sakit yang tidak termakan bujuk rayuan produsen susu formula ? Apalagi rumah sakit 'pengejar profit' yang ada di kota besar.
Waktu saya menyatakan ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayi saya, suster RSUD tempat saya melahirkan bilang, "tapi kalau nanti bayinya dehidrasi, saya kasih sufor ya Bu !"
Tidak ada kata-kata penyemangat. Malah, dalam kalimat itu terkandung ancaman, "kalau ASI saja, nanti bayinya bisa dehidrasi loh !" Memang ASI saya baru lancar keluar pada hari ketiga, tapi toh bayi saja baik-baik saja. Malah tumbuh dengan perkembangan lebih cepat dari rata-rata dan tidak gampang sakit.
Lepas dari rumah sakit, anda tentu saja akan menghadapi tantangan lainnya. Apalagi kalau anda bekerja. Perusahaan di Indonesia rata-rata hanya memberikan jatah cuti 3 bulan saja. Beruntung kalau bisa menemani bayi selama 3 bulan pertama. Beberapa perusahaan malah mewajibkan cuti melahirkan diambil 1,5 bulan sebelum kelahiran.
Tidakkah hal ini bertentangan dengan program ASI eksklusif 6 bulan ?
Oke, mungkin anda berpikir, "Kan ASInya bisa diperas dan dibekukan ?"
Kalau perusahaan (atau atasan) mau menyediakan tempat khusus agar ibu nyaman memeras ASI dan kulkas untuk menyimpan ASI perasan tersebut, itu anugrah. Tapi berapa banyak sih perusahaan yang baik hati seperti itu ? Saya tahu beberapa ibu terpaksa memeras ASI di toilet. Apakah ini higienis ? Coba pikirkan kalau anda tahu bahwa masakan yang anda beli dari restoran ternyata pernah masuk toilet. Tidakkah anda merasa mual ?
Tidak cuma itu. Kalau kita pergi ke tempat umum pun, berapa banyak sih fasilitas publik yang menyediakan nursing room ? Beberapa mal kelas atas di Jakarta memang sudah punya, tapi selain itu ? Bagaimana dengan kantor pemerintah, pasar, stasiun, terminal, dan tempat umum lainnya ? Oh, jangankan memberikan nursing room. Toilet di tempat umum seperti itu saja tidak terawat dan baunya setengah mati.
So, ibu mentri memang dengan gampang mengatakan bahwa sebaiknya bayi baru lahir diberi ASI. Tapi pemerintah juga sudah seharusnya memberikan fasilitas yang mendukung para ibu untuk nyaman memberikan ASI.
Dan kalau anda merasa tidak mau direpotkan oleh tantangan di atas, tapi tetap mau memberikan yang terbaik untuk si kecil, anda perlu memikirkan untuk berhenti bekerja dan tinggal di rumah saja.
Langganan:
Poskan Komentar
(Atom)






Poskan Komentar